Masih segar dalam ingatanku, beberapa bulan yang lalu (bahkan sampai sekarang) banyak sekali kontes-kontes menyanyi. Mulai dari AFI, KDI hingga American Idol-nya Indonesia (halah…). Katanya, tujuan kontes-kontes kayak gini sih untuk mencari bibit-bibit baru penyanyi Indonesia. Kemudian kontes-kontes ini berkembang seperti Super Mama, Artis Dadakan (CMIIW) dan lain-lain (banyak banget dah…) yang jauh dari konsep “mencari bibit-bibit baru” penyanyi Indonesia.
Terlepas dari sadar atau tidak bahwa mereka telah diperalat untuk keuntungan stasiun tipi penyelenggara, peminatnya tetap saja banyak.
“Lho, kok diperalat sih?”
Ya diperalat lah. Bayangkan pemasukan penyelenggara dari iklan dan SMS premium.
“Ah, tapi kan mereka ntar diorbitin!”
Yakin lo? Uda berapa banyak sih yang diorbitin? Paling cuma nongol sekali trus tenggelam.
“Ya paling engga’ bakat mereka kan terasah”
Mungkin. Tapi kebanyakan yang menang kontes kayak gitu bukan yang bener-bener bersuara bagus. Yang kehidupannya paling menyedihkanlah yang menang karena simpati pemirsa. Kalau kalah? Mereka menangis seakan-akan uda ga da harapan lagi untuk tetap terus berkarya. Ini kontes menyanyi atau sedih-sedihan?
Dan parahnya lagi, sekarang acara-acara kayak gitu uda ekspansi ke anak-anak! Dan pastinya dengan dalih “mengembangkan bakat anak-anak“. Menurutku, itu ga mendidik banget!
“Kenapa? Bakat perlu dikembangkan sedari kecil”
Ya. Tapi proporsinya mesti sesuai. Liat anak-anak kecil jaman sekarang, apa ada lagi yang nyanyiin lagu anak-anak? Anak-anak nyanyiin lagu dewasa. Cinta-cintaan pulak? Apa sesuai dengan proporsinya? Belum lagi penyelenggara yang mengeksploitasi anak (mengambil keuntungan dari iklan dan SMS tentunya). Tetapi kenapa Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) cuma ngurusin anak yang nikah di bawah umur? Kenapa hal seperti ini tidak diperhatikan padahal dampaknya bukan untuk SATU ANAK! Melainkan JUTAAN ANAK-ANAK Indonesia! Bibit generasi penerus bangsa Indonesia! Apa semua mau dijadikan penyanyi?
Random Posts
Loading…

(1 votes, average: 4.00 out of 5)











March 23rd, 2009 at 1:03 am
Capek lah bg.. liat acara TV sekarang ini…
Gag ada abis2-nya pembodoan2 itu..
March 23rd, 2009 at 9:55 am
@moehfi
makin banyak aja kayaknya fi, cuma pake blog lah bisa kuungkapkan pikiran2 ini.
March 23rd, 2009 at 3:16 pm
sms premium cuman 400rb / 1000 nomor untuk provider xl…
1000/2 = 500 asumsi ada yang kirim dan autorespond kita kirim
500 x 2000 = Rp. 1.000.000,-
Ketutup modal kan ? dan ada begitu banyak sistem serupa di perlombaan atau reality fvckin show. Jadi kalau ada hadiah rumah, mubil, atau laennya itu bisa dipastikan tidak akan sampai dengan 1/2 dari pendapatan dari sang pembuat event…
Salah ? Nggak lah namanya usaha… Istilahnya trend, entar juga modar ndiri … wkwkkw… asal pas ngelapor NPWP jangan dia bilang nihil aja…
*watawwwwwwwwwwwwww…
March 24th, 2009 at 2:33 pm
Iya juga sih.
Tampaknya bagus buat si anak, supaya bisa belajar dan punya pengalaman.
Namun, berlebihan. Di usia yg masih anak-anak, mereka dipaksa melakukan yg seharusnya belum dilakukan.
:-?
March 24th, 2009 at 8:54 pm
@HeLL-dA
menurutku, itulah fungsi KPAI dan KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) untuk mengatur hal-hal semacam ini. Membatasi yang berlebihan..
October 1st, 2009 at 10:00 pm
bukan hanya salah kpai…tapi salah semua termasuk juga penyelenggara…tapi gemana lagi ya…susah..mungkin udah jamannya kali ya..