Gagal di Rencana A, kami pun memikirkan Rencana B. Setelah sarapan (hmm atau makan siang..), kami menuju Mesjid Jamek. Rencana B adalah mencari Istana Negara. Tempat yang dilihat temenku, Degan, di malam hari ketika kami menuju Pudu setelah tiba di bandara. Di peta, tidak terdapat keterangan di mana lokasi Istana Negara. Perkiraan kami, lokasinya terletak di Dataran Merdeka. Paling engga disekitar situ lah… :)
Dari Stasiun Mesjid Jamek, kami jalan kaki menuju Dataran Merdeka. Di perjalanan kami melihat seorang pengendara sepeda motor ditilang karena melewati garis batas berhenti di traffic light. Sungguh ketat peraturan di Malaysia. Kubayangkankota Medan, jauh laa. Jarang kali keliatan pengendara motor yang ga melewati batas. Kalo pun ada yang ga melewati batas, itu karena di depan udah penuh. Hihihii..
Akhirnya kami tiba juga di Dataran Merdeka. Setelah melihat berkeliling, ternyata ga da tuh Istana Negara. Ternyata perkiraan kami meleset. Istana Negara ga di sekitar sini. Hhh, di sela-sela kekecewaan, aku mengambil foto gedung Sultan Abdul Samad, Perpustakaan Kuala Lumpur dan bendera kebangsaan Malaysia. Kami mencari telepon umum untuk menelepon temenku, mencari informasi mengenai Istana Negara. Tapi sialnya, telepon umum ga keliatan sama sekali. Padahal kalo lagi jalan sebelumnya, banyak kali ku liat telepon umum.
Kami berjalan tanpa arah, di tengah teriknya matahari. Dahaga kian terasa. Keringat mengucur derasnya. Akhirnya aku melihat telepon umum yang sedang nganggur. Secercah harapan terbersit di benak kami dan memancari dari raut wajah orang putus asa. Ku masukkan koin 20 sen, dan menekan nomor yang dituju. Yang terlihat cuma sebagian nomor aja di LCD teleponnya. Uda rusak separo nih. Tapi ga apa la, masih ada nadanya. Ga lama menunggu, terdengar suara di ujung sana, “The number you are calling cannot be reached”.
Sekali tepuk, dua nyawa. Satu hari berjalan, dua kesialan menerpa kami. Kembali, kami terdiam, terbodo, termenung, tentu dengan tatapan kosong. Di tengah keputusasaan, seorang bapak berambut putih, yang namanya Ali, tampaknya prihatin dengan keadaan kami. Abis kayak gelandangan sih, duduk di trotoar. Hehehe…. Dia menawarkan bantuan untuk menunjukkan arah tujuan kami.
Setelah menjelaskan situasinya, dia mengangguk-angguk mantap. Dilihatnya peta yang kami sodorkan. Diputarnya peta itu, tangannya menunjuk menyusuri jalan-jalan yang terlihat. Sambil bergumam ia mencari-cari dimana Istana Negara. Ah.. ga jelas pikirku. Apa ga bisa baca peta ni orang? Bah.. rupanya betul pikiranku, kayaknya dia nyerah tuh. Ga tau dia letak Istana Negara di peta. Akhirnya dia nunjukin arah aja. Belok kiri, jumpa makam, ada fly over, jumpa mahkamah konstitusi, belok kiri. Gitu lah kira-kira yang ku catat di notebook. Logat India-nya masih terasa di kepalaku walopun semua perkataannya telah selesai ku catat.
Ok sepp, harapan mulai timbul. Kami melanjutkan perjalanan setelah mengucapkan terima kasih kepada pak cik Ali. Sebelum menuju Istana Negara, kami menuju Mesjid Negara. Karena satu arah, tidak ada salahnya singgah untuk shalat dzuhur di Mesjid Negara. Setelah selesai shalat dan berfoto sebentar, kami melanjutkan perjalanan hingga sampai ke Mahkamah Konstitusi. Di sini keraguan mulai melanda. Aku bilang belok kiri. Temenku bilang belok kanan. Ku buka catatan, emang belok kiri. Tapi temanku berkeras belok kanan, terlebih ada papan penunjuk arah yang menunjukkan arah kanan untuk ke Istana Negara. Ibu-ibu yang ditanyain pun mengiyakan.
Di sini kesengsaraan dimulai. Ketahanan kami diuji. Jalur yang kami tempuh adalah jalur khusus kendaraan bermotor. Tidak ada pejalan kaki selain kami yang berjalan di situ. Jalanan yang mulus mengundang kendaraan untuk melaju dengan kencang. Jangan lupa, ditambah panasnya aspal akibat teriknya matahari, kami pun semakin lemas. Mata terpaksa disipitkan karena cahaya silau sang penerang bumi.
Setelah hampir putus asa, kami melihat bangunan yang kayaknya adalah Istana Negara. Harapan pun kembali. Dengan semangat kami segera kesana. Ya, benar, itu Istana Negara. Tenaga yang terkuras habis kini bangkit lagi. Tapi tantangan belum selesai. Kendaraan melaju tanpa perasaan. Ga senang sopir-sopir tu kalo ga nginjek gas ampe abis. Kami ga mau bernasib seperti biawak ini. Dengan sabar kami menunggu hingga adanya celah antar kendaraan yang kosong.
Cukup lama menunggu, akhirnya berhasil juga kami menyeberang ke Istana Negara. Sebelumnya telah ada rombongan turis yang singgah. Tentunya ga jalan kaki, mereka naek bus persiaran (pariwisata). Mereka foto-foto ama penjaga istana. Kami pun ga mau kalah la. Foto-foto juga ama penjaga istana. Emang itu tujuannya kok. Berfoto ama penjaga yang naek kuda, yang diem walopun ada yang ngajak ngomong. Hehehe.. kayak penjaga istana di Inggris, yang ada di pelem Mr. Bean. Tak lama turis-turis tu cabut, kedua penjaga berkuda dijemput ama komandannya. Pergantian penjaga. Kesempatan ini ga ku sia-siakan. Kuabadikan prosesi pergantian penjaga istana. Pos dibersihin dan dibiarin kosong untuk sementara. Karena udah jam 3, kami pun langsung menuju Stesen KL Sentral menggunakan taksi dengan ongkos RM 5.
Ah.., akhirnya rencana kami berhasil, setelah rintangan berat yang kami hadapi. Hhhhh.. leganya…
Eh, masih lom siap.. aku lom cerita perjalanan pulang… :)
Random Posts
Loading…
Tags: Backpacker, My Life

(2 votes, average: 4.00 out of 5)














Leave a Reply