Hujan telah reda. Maghrib telah tiba. Menjelang waktu Isya, kami berkeliling Bukit Bintang. Melihat lebih dekat Bukit Bintang di waktu malam. Sungei Wang Plaza menjadi tempat pilihan kami untuk membeli sedikit oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Medan (maklum la, dana terbatas, jadi ga bisa beli oleh-oleh yang banyak). Pencarian oleh-oleh ga terlalu lama, karena Sungei Wang Plaza uda mo tutup sekitar pukul 9 malam.
Plaza boleh tutup pukul sembilan, tapi Bukit Bintang tetap buka 24 jam. Kafe-kafe di sepanjang jalan Bukit Bintang tetap masih melayani pengunjung yang datang. Sebagian meja mereka yang berada di trotoar terisi oleh beberapa pengunjung. Pedagang kaki lima pun masih setia menunggu pembeli. Sayup-sayup terdengar alunan lagu yang tak asing di telinga.
Jangan-jangan kau tak terima cintaku
Jangan-jangan kau hiraukan pacarmu
Putuskanlah saja pacarmu
Lalu bilang I Love You… Padaku
lagu dari ST12, band asal Indonesia, sedang dibawakan oleh band Malaysia di sebuah kafe.
Sesuai dengan namanya, Bukit Bintang tetap terang walaupun telah malam. Banyak pejalan kaki di sepanjang trotoar jalan Bukit Bintang. Trotoar ini, yang dikenal dengan Bintang Walk, memang nyaman untuk pejalan kaki. Melayu, Chinese, Pakistan, India, Arab, Bule, semua tumpah ruah di Bukit Bintang. Dari yang berpakaian paling sopan, hingga yang berpakaian secukupnya, berseliweran ke sana kemari. Kulit yang paling hitam hingga kulit yang paling pucat, terlihat bergerak tak beraturan. Lapak kaki lima digelar. Tak peduli walopun yang dijual hanya beberapa lembar stiker anak-anak atau boneka beruang Mr. Bean. Pengrajin instan hingga atraksi manusia emas menghiasi lajur pejalan kaki yang lebar.
Di sepanjang jalan ramai ditawarkan jasa pemijatan. Dengan pakaian seragam maupun pakaian yang mengundang syahwat, mereka merayu setiap turis yang melintas. Bukan hanya itu, ada juga yang terang-terangan menawarkan amoy kepada kami. Bahkan wanita pria berselendang pun tak ketinggalan menggoda kami.
Ramai dan padat di trotoar, begitu juga dengan di jalanan. Kendaraan bermotor terus merayap di jalan Bukit Bintang. Hanya berhenti bila traffic light berwarna merah atau pengendaranya ingin menurunkan penumpang. Jalur monorail pun ga mau kalah. KL Monorail bolak balik menghantarkan penumpang dari/ke Bukit Bintang.
Di depan MayBank, terlihat sekelompok anak muda dari komunitas break dance sedang latihan. Melatih gerakan-gerakan lama maupun baru. Duel break dance sesama anggota menjadi tontonan menarik bagi pejalan kaki yang melintas. Bukan hanya itu, pengendara mobil maupun sepeda motor menyempatkan diri untuk melirik sekejab sambil lalu. Tak jarang terdengar tepuk tangan riuh rendah dan teriakan penonton yang menandakan break dancer sedang melakukan gerakan yang ajib.
Bila punya dana berlebih, Bukit Bintang bisa dipastikan tempat yang tepat untuk menghabiskannya. Lokasi ini memang lokasi shopping. Dari mulai Sungei Wang Plaza, Bukit Bintang Plaza, Low Yat Plaza, Lot 10, KL Plaza, Planet Hollywood dan Starhill Gallery. Hotel-hotel mewah pun berdiri megah di sini. Dari JW Marriot, Westin, KL Plaza Suite dan lain-lain. Kalo ga punya dana berlebih, hostel-hostel murah pun ada. Tapi ya.., jangan ngarepin fasilitas yang memadai.
Lelah berkeliling Bukit Bintang, kami pun kembali ke hostel. Menaiki anak tangga untuk mencapai kamar yang tak seberapa. Di ruangan sempit tak berjendela, kami tertidur pulas. Menunggu hari esok untuk rencana selanjutnya.
To be continued…
Random Posts
Loading…
Tags: Backpacker, My Life













August 26th, 2010 at 8:57 am
mas..nginep di hostel mana?rencana okt ak mw nginep di bb.ada ga referensi hostel yg murah?thx
August 27th, 2010 at 9:25 am
@deya
lupa nama hostelnya.. letaknya di depan seven eleven, harga standar, ga murah kali ga mahal kali jg.. kl di bb rata2 segitu harganya, kl dapet yg murah dari yang laen patut dicurigai tuh… kemungkinan fasilitas kurang bagus (soalnya pernah kek gt)…